| 03 September 2010 |
Bingkai
Mengoyak Pohon Kekuasaan
26 Agustus 2008 - 17:37 WIB
Panas jalur menuju Istana. Jalan sendiri atau berkendara.
Perang wacana bursa pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2009 sudah dimulai. "Hiruk-pikuk" itu berupa perang urat syaraf kandidat tua dan kandidat muda, hingga pencalonan kandidat dari jalur perseorangan.
Geliat pengajuan diri calon presiden melalui jalur independen sebenarnya tidak seramai perdebatannya. Sebab, implementasinya bahkan sudah "dibunuh" lebih awal nyaris bersamaan dengan mulainya kampanye wacana tersebut.
"Pintu calon perseorangan sudah pasti tertutup. Undang-Undang Dasar tidak membuka peluang sedikit pun bagi calon perseorangan. Pasal 6 (a) UUD 1945 mengatakan, pasangan presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik dan gabungan partai politik. Titik! Jadi, tidak ada calon perseorangan," kata Patrialis Akbar, anggota Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilihan Presiden di DPR.
Dia menilai pengajuan calon presiden dari jalur perseorangan mengundang bahaya lebih besar ketimbang pencalonan melalui jalur partai politik. Sebab, menuntut pertanggungjawaban calon perseorangan lebih sulit dibandingkan meminta pertanggungjawaban partai.
Menurut Patrialis Akbar, alasan partai yang sudah tidak lagi dipercaya masyarakat, tidak dapat dijadikan alasan untuk mengajukan calon presiden perseorangan. "Memangnya perseorangan tidak lebih mengecewakan? Banyak juga yang lebih mengecewakan."
Pendapat itu dibantah Ratna Sarumpaet, salah seorang calon presiden perseorangan. Menurut dia, capres
perseorangan menjadi alternatif bagi masyarakat yang tidak percaya lagi pada partai politik. "Jadi, kita melawan yang tidak beradab sekarang ini dengan cara-cara yang lebih beradab. Kita tunjukkan kalau ingin menghormati bangsa ini, caranya seperti ini. Saya orang yang optimis, dan itu cara-cara yang paling tidak sementara ini bisa saya sampaikan," katanya.
Namun mantan Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta ini kelihatannya juga belum berbulat tekad maju gelanggang berebut kursi RI 1 tanpa dongkrakan partai. Dia kini mengaku menunggu pinangan parpol yang mau mencalonkannya sebagai presiden.
Menurut Ratna, partai politik yang meminangnya harus bersih dan sadar pada pilihan politiknya. "Saya pasti akan ikut partai. Tapi saya nggak mau sekarang datang ke partai. Karena nanti partai akan mengatakan, ‘bayar segini, dong'. Saya tidak mau politik uang. Aku itu menjadi presiden solite."
Direktur Indo Baromater Muhammad Qodari mengatakan, ketergantungan calon presiden perseorangan pada partai politik tidak dapat dielakkan. Para calon harus menjamin terjalinnya komunikasi yang baik dengan partai agar peluang diajukan sebagai capres lumayan terbuka. Capres dituntut tidak hanya mampu bicara di forum LSM dan media massa, namun juga komunikatif dengan parpol.
Keengganan capres independen berkomunikasi dengan partai politik akan semakin menutup kesempatan menuju kursi kepresidenan. "Karena harus melalui partai politik. Oleh karena itu mereka (capres perseorangan) tidak bisa hanya teriak-teriak di pinggir jalan," kata Muhammad Qodari.
Di antara kegamangan dan ruang kesempatan yang kian sempit itu muncul nama Fadjroel Rahman. Meski juga tidak yakin seratus persen dapat "turun gunung" meramaikan pencalonan presiden, dia percaya peluang mencalonkan diri menjadi presiden dari jalur perseorangan masih mungkin terjadi. "Sembilan puluh sembilan persen harus yakin. Dulu kasus pilkada perseorangan, semua orang bilang tidak akan ada kesempatan. Tidak ada yang membantu, kecuali Dewan Perwakilan Daerah dengan pernyataan mendukung calon perseorangan," katanya. (*)
Angga Haksoro/Kurniawan Tri Yunanto/Hervin Saputra/Wahyu Arifin
Foto: VHRmedia/ Dian Ali Rachman & Hervin Saputra
©2010 VHRmedia.com
Belum ada yang berkomentar
Berikan Komentar Anda
Wawancara
Rido Triawan: Gay Bukan Psikopat
25 Juli 2008 - 14:4 WIB
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita mutilasi terhadap Heri Santoso (40). Polisi menyangka Verry Idham Henyasyah alias Ryan (30), seorang gay, sebagai pelakunya. Banyak media massa mengangkat pendapat masyarakat bahwa gay memiliki kecenderungan berlaku psikopat. Pandangan tersebut dibantah Rido
Berita Terkait
- Harifin Tumpa Terpilih sebagai Ketua MA 15 Januari 2009 - 17:29 WIB
- Calon Pejabat Wali Kota Tangerang Selatan Diserahkan 14 Januari 2009 - 11:2 WIB
- AJI & MA Sepakat soal Penanganan Kasus Pers 13 Januari 2009 - 15:27 WIB
- KPK Mulai Usut Latar Belakang Kebijakan BLBI 9 Januari 2009 - 9:35 WIB
- UU Bantuan Hukum Macet di DPR 7 Januari 2009 - 15:35 WIB
Kisah Terkait
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (3, habis) 29 Mei 2008 - 11:10 WIB
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (2) 28 Mei 2008 - 15:23 WIB
- Mereka yang Tak Terkucuri BLT (1) 27 Mei 2008 - 14:5 WIB
- Masih Ada Ketegaran di Megaria 27 Maret 2007 - 13:4 WIB
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Kisah
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:24 WIB
Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru yang segar, sederhana, dan lebih mendalam dengan pemilihan kategori tema. Kunjungi VHRmedia baru di: http://www.vhrmedia.com//
Redaksi
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







