| 07 September 2010 |
Berita
Jelang Pemilu 2009
Perlu Dibentuk Dewan Etik Lembaga Survei
9 Januari 2009 - 17:26 WIB
Hervin Saputra & Nina Suartika
VHRmedia, Jakarta -Perlu dibentuk dewan etik lembaga survei agar objektivitas hasil survei dapat dipertanggungjawabkan. Hal itu untuk menjawab keraguan atas kredibilitas lembaga survei yang bermunculan menjelang Pemilu 2009.
Usulan tersebut dilontarkan Fachri Hamzah, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR. Menurut dia, dewan etik dapat dibentuk oleh asosiasi sejumlah lembaga survei. "Ya semacam dewan etik-lah," kata Fachri di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Jumat (9/1).
Namun, dia mengingatkan asosiasi itu jangan menerapkan sistem "kartel" dalam merumuskan kode etik dan dewan etik. "Jangan sampai ada tren kartel. Mereka (lembaga survei) berkumpul, lalu tukar-tukaran data," katanya.
Fachri menilai maraknya lembaga survei menjelang Pemilu 2009 tidak disertai transparansi pelaksanaan surveinya. Lembaga survei kerap tidak bisa membedakan survei objektif dan survei yang semata untuk kampanye. "Metodenya dicampur-campur. Itu perdagangan terbuka," ujarnya.
Lembaga survei, kata dia, juga masih mengukur kecenderungan yang klise seperti survei popularitas parpol dan capres. Seharusnya lembaga survei mengukur kecenderungan yang tidak bisa dibaca secara umum seperti melonjaknya perolehan Partai Demokrat dan terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono pada Pemilu 2004.
Direktur Riset Institute Survei Publik Isra Ramli mengatakan ada hal-hal ilmiah yang dapat dimanipulasi partai karena kemasannya survei. Misalnya, orang yang menyampaikan dengan klaim akademis hingga dianggap ilmiah. "Meskipun tidak semua survei yang dipesan menjadi tidak kredibel," ujarnya.
Direktur Indobarometer M Chudori memandang banyak persoalan penting yang perlu disurvei ketimbang popularitas parpol dan capres. Misalnya, tingkat pemahaman dan persepsi masyarakat terhadap mekanisme pemilu. "Ada banyak, bukan cuma popularitas parpol."
Dia mengecam langkah parpol dan kandidat yang membayar lembaga survei hanya untuk dianggap paling populer. Mereka seharusnya mencari hasil survei yang objektif untuk menentukan langkah politiknya. "Kalau hanya untuk menyenangkan diri sendiri, itu namanya onani politik," katanya.
Chudori memprediksi sejumlah lembaga survei bermunculan dan bekerja hanya untuk kampanye tanpa objektifitas akan habis setelah pemilu dan pilpres 2009. "Yang bertahan lembaga survei yang memang mendedikasikan dirinya untuk (survei objektif) ini," ujarnya. (E4)
©2010 VHRmedia.com
Berita Terkait
-
15 Januari 2009
KPU Jamin Pemilu Tepat Waktu -
14 Januari 2009
Lagi, 10 Parpol Mohon Uji Materi UU Pemilu -
12 Januari 2009
Bangsa Indonesia Butuh Pemimpin Baru -
8 Januari 2009
Sosialisasi Pemilu di Surabaya Tidak Maksimal -
30 Desember 2008
Kelas Menengah ke Bawah Pilih Pemimpin Muda
Belum ada yang berkomentar
Berikan Komentar Anda
Agenda
Berita Terkini
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:20 WIB
Imparsial Minta MA Kedepankan Pendekatan HAM
16 Januari 2009 - 23:54 WIB
Muchdi Pr Siapkan 6 Saksi untuk Usman Hamid
16 Januari 2009 - 21:33 WIB
Kejaksaan Agung Perpanjang Kerja Satgas Antiteror
16 Januari 2009 - 21:15 WIB
LIPP: KPUD Jatim Paksakan Pilgub III
16 Januari 2009 - 21:4 WIB
Kisah
Wajah Baru VHRmedia
21 Januari 2009 - 14:24 WIB
Mulai Senin 19 Januari 2009 VHRmedia menyapa pembaca dengan wajah baru yang segar, sederhana, dan lebih mendalam dengan pemilihan kategori tema. Kunjungi VHRmedia baru di: http://www.vhrmedia.com//
Redaksi
Berita Terpopuler
Tidak ada data 5 Berita terpopuler
Curhat
Menakar Harga Perempuan
30 November 2007 - 11:45 WIB
Gerobak Mi Ayam dan Konversi Minyak Tanah
12 September 2007 - 11:20 WIB
Bayi Mungil di Rumah Kontrakan
13 Agustus 2007 - 14:12 WIB
Juragan Kos-kosan dan Kartu Gakin
11 Juli 2007 - 12:32 WIB
Bukan Salah Kartinem...
24 April 2007 - 11:51 WIB







