VHRmedia.com

Pernikahan Beda Warga Negara

dikirim oleh Marcella 21 Februari 2010 - 20:47 WIB

Dengan hormat,

Pertengahan tahun ini saya berencana menikah dengan warga negara asing di Jakarta dan sekarang sudah mulai mempersiapkan dokumen yang harus kami serahkan. Calon suami bekerja dan tinggal di negaranya dan saya di Jakarta. Rencana relokasi baru akan dilakukan setelah pernikahan.

Kami belum berniat melakukan pernikahan di gereja dan ingin langsung menikah di catatan sipil. Apakah pernikahan catatan sipil sebelum pernikahan agama dimungkinkan di Indonesia? Apakah ini dapat dilakukan langsung di kantor catatan sipil? Apakah pernikahan di catatan sipil saja tanpa pernikahan agama diperbolehkan oleh negara? Apakah saya harus melakukan pernikahan di kantor catatan sipil tertentu sesuai KTP/KK saya atau dapat di mana saja?

Kami nasrani, namun secara gereja kebetulan calon suami saya Katolik dan saya Protestan. Apakah ini dianggap sebagai pernikahan beda agama oleh pemerintah Indonesia? Saya dengar salah satu dokumen yang harus dipersiapkan adalah surat izin dari orang tua. Apakah ini dokumen yang wajib? Bila ya, siapa yang dapat mewakili orang tua saya yang sudah meninggal? Apakah wajib untuk saya saja sebagai WNI atau calon suami saya juga harus mempersiapkannya?

Terima kasih

Ulasan mengenai syarat sah pernikahan, pernikahan beda agama, dan  pernikahan beda kewarganegaraan dapat ditengok di:
1. http://www.vhrmedia.com/Mengesahkan-Pernikahan-di-Negara-Lain-konsultasi683.html
2. http://www.vhrmedia.com/Sahnya-Pernikahan-konsultasi682.html
salam

Redaksi

Formulir Hak Jawab

dikirim oleh Heri Tri Widodo, SH 15 Januari 2010 - 9:47 WIB

Mohon untuk menambah wacana, kami mohon bisa dikirim form hak jawab. Terima kasih.


VHRmedia.com sudah memberikan hak jawab. Formulir hak jawab ada di footer (bagian bawah) halaman web kami. Silakan dicek.
Terima kasih

Salam
Redaksi

Capek Deh!

dikirim oleh E.Faizin 24 November 2009 - 20:52 WIB

Setelah menunggu sekian lama, apa yang menjadi harapan rakyat, ternyata hasilnya cuma satu kata: Bingung. Bapak SBY telah memaparkan beberapa runtutan demi menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan rekomendasi Tim 8. Dan apa yang kita dengarkan? Kita menangkap tidak adanya ketegasan dari beliau. Masih ragu, bahkan. Beliau masih mencoba berada di tengah-tengah arus dan tidak memberikan kepastian kepada publik. Bola sudah ada di hadapan, mengapa tidak langsung ditendang? Malah dilempar ke sana-kemari tanpa arah pasti.

E Faizin


Siapa Mengawali Krisis?

dikirim oleh E.Faizin 19 November 2009 - 23:18 WIB

Awal tulisan ini mungkin tercetus di saat geliat rakyat mulai merambat di mejaku. Intinya kita kembali ke alam yang sebenarnya sangat kaya akan kandungan, bahkan tak habis untuk tujuh turunan. Bumi, air, dan kekayaannya diatur, bahkan dilindungi oleh undang-undang. Sebagaimana tertuang dalam UUD 45 yang kita sudah tahu dan mahfum adanya.

Saat ini kita mengalami krisis listrik. Di Indonesia banyak dibangun pembangkit listrik yang besar. Juga jaringan yang luas. Beberapa PLTG dibangun di daerah yang strategis, dengan asumsi terjadi penghematan yang signifikan karena bumi kita penghasil gas. Tapi apa daya, gas hanya sedikit tersisa untuk negeri kita tercinta. Entah sisa ekspor atau sisa buat membayar utang. Akhirnya PLTG itu berubah nama PLTS ( Pembangkit Listrik Tenaga Solar). Akhirnya yang kita rasakan krisis energi.

Di luar Pulau Jawa banyak pulau dan kepulauan penghasil tambang batu bara, namun yang dibangun bukannya PLTU. Kebijakan pemerintah membangun dan meresmikan PLTD semakin membebani keuangan negara. Begitu ada sinyal byar-pet, kembali rakyat merasakan kurang nyamannya pelayanan PLN. Sinyal byar-pet itu malah mendorong dibuatnya peraturan yang nantinya diperkuat inpres, dengan poin di antaranya denda bagi yang boros listrik.

Rakyat sudah lama mengalami krisis kepercayaan, jangan ditambah dengan derita yang berkepanjangan. Semoga menjadi renungan kita bersama.
 
Salam
E Faizin


Tarif Talk Mania Simpati Menipu?

dikirim oleh Hendri Marihot Siregar,SH. 11 November 2009 - 9:40 WIB

Salam Sejahtera.

Saya berdomisili di Riau, tepatnya di Kabupaten Pelalawan. Kurang lebih 3 minggu lalu saya melakukan daftar Talk Mania Simpati. Saat itu pulsa saya masih berkisar Rp 9.893. Saya berhasil mendaftar program tersebut, hanya saja pulsa saya berkurang menjadi Rp 300. Hari itu saya sudah mengajukan komplain ke Graphari Telkomsel di Pelalawan. Menurut petugas, akan segera diproses/dibantu dan saya disuruh tunggu 1 X 24 Jam. Namun hasilnya tetap nihil. Saya juga telah menghubungi 116, layanan Telkomsel. Oleh petugas yang menjawab, saya disuruh tunggu 3 X 24 jam. Namun hingga limit hai yang ditentukan juga hasilnya nihil.

Dua hari setelah itu saya kembali mengikuti program TM (Talk Mania). Saat itu pulsa awal saya berkisar Rp 8.000. Namun setelah daftar TM berhasil, ternyata kejadiannya berulang, kembali pulsa saya hanya tersisa kurang lebih Rp 800. Hari itu saya datangi Graphari Telkomsel di Pelalawan. Namun tetap juga hasilnya nihil. Mereka hanya akan janji. Hingga hari ini tidak ada progress-nya. Bahkan saya sempat meminta berita acara pengajuan komplain, namun oleh petugas tidak ada berita acara seperti itu. Saya hanya disuruh bersabar. Bahkan daftar panggilan atau transaksi panggilan keluar dan masuk di handphone saya terhapus semua oleh sistem jaringan Simpati-Telkomsel.

Saya komplain kepada Telkomsel, kalau membuat program Talk Mania jangan menipu tarif kepada masyarakat. Mohon Telkomsel Simpati menindaklanjuti komplain saya ini, karena tidak tertutup kemungkinan kejadian serupa banyak dialami pelanggan Anda yang mungkin tidak tahu/dapat mengajukan komplain ke mana.

Terima kasih

Hendri Marihot Siregar SH


Ada Apa dengan Negara Kita?

dikirim oleh Kartono 3 November 2009 - 21:54 WIB

Saat ini "rakyat" disuguhi, dicekoki, dan diperlihatkan dengan sesuatu yang mengusik rasa ketidakadilan. Apakah sudah sedemikian parahkah "demokrasi" di negara kita? Kadang rakyat bingung, cuek, bahkan "biarin ah.. itu kan bukan urusan kita!"

Tapi di sisi lain, kita sebagai rakyat kecil secara tidak langsung terkena imbasnya. Apalagi saat ini suasana panasnya politik sudah mendominasi di awal sebelum perekonomian terobati.

Kira-kira apa yang mesti kita kerjakan?

Kartono


Ke Mana Harus Mengadu?

dikirim oleh kristina stewart 22 Oktober 2009 - 14:24 WIB

Salam
 
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Dulu aku berpikir menikah dengan orang asing merupakan berkah bagiku. Ternyata aku salah besar. Sikapnya yang dulu dewasa, sabar, lemah lembut, berubah drastis setelah aku menjadi istrinya.
 
Perkawinan kami diadakan di Indonesia dengan pesta adat. Kedua orang tuanya hadir. Singkat cerita, kami harus berpisah sekitar dua bulan sebelum aku mendapatkan visa ke Negeri Kanguru. Sampai di sana impianku mendapatkan rumah tangga yang harmonis ternyata angan-angan belaka. Semuanya berbeda. Dia mengharapkan aku hormat kepadanya, namun tak pernah sekalipun dia mengormatiku dan menyayangiku. Dia lebih perhatian pada anjing dan kucingnya. Saat binatang peliharaannya sakit, kebingungan luar biasa kutangkap di matanya. Sebaliknya, diriku tak pernah dihiraukan bila sakit. Seakan dia menganggap itu hal biasa.
 
Dia dan orang tuanya mengharapkan aku membersihkan propertinya yang luasnya 500 m2 yang dipenuhi pepohonan. Aku hanya seorang wanita. Apa yang bisa kulakukan untuk menyenangkan akan kulakukan. Cintaku yang luar biasa kepada dirinya. Aku  berpikir sudah kodratku sebagai istri untuk membantu suami. Dengan ikhlas aku lakukan. Namun semua itu sia-sia belaka. Dia hanya melihat kelemahanku yang segelintir, namun tak pernah sedikit pun mengingat apa yang telah dilakukannya pada diriku.
 
Suatu saat aku menemukan kondom, gambar wanita lain, surat, dan lain-lain... Aku  hanya ingin bertanya, aku tak ingin suami yang kucintai membagi cinta pada orang lain. Namun, bukan jawaban yang aku terima. Dia mendorongku, mencekikku hingga lebam. Walau demikian, tak sekalipun aku mengadukannya kepada polisi, karena letak rumah kami jauh dari keramaian. Jauh dari kota terdekat. Tetangga paling dekat jaraknya sekitar 1 km.
 
Aku hanya menangis dan menjerit. Mengapa? Aku hanya bisa berdoa agar suami yang sangat kucintai berubah. Namun itu tak mengubahnya. Dia menjadi kasar dan suka memaki dengan kata yang tak pantas diucapkan seorang suami kepada istri. Aku hanya bisa berkeluh kesah kepada adikku tentang kelakuannya. Adikku mengatakan, bila terjadi kekerasan, ambil fotonya, seperti kisah Manohara. Namun, kekalahanku, aku tidak memiliki visum dokter. Jadi, tak mungkin aku bisa membawa kasus ini ke hukum.
 
Aku manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, namun aku selalu mencoba menjadi istri yang sempurna. Bangun pukul 04.30, menyiapkan bajunya, sarapan pagi dan makanan untuk dibawa ke tempat kerjanya, mengerjakan pekerjaan rumah dan belakang rumah seluas 500 m2. Semua itu karena rasa cintaku kepadanya. Tak sekali pun dia mencium diriku. Sikapnya yang dingin membuat aku bertanya-tanya, mengapa dia berubah.
 
Aku mencintai orang tuanya seperti orang tuaku sendiri. Namun mereka selalu menggangguku dengan kata-kata yang mengganggu mentalku. Baru seminggu aku hidup di sana, mereka menyuruhku mencari pekerjaan untuk membantu suami dalam hal finansial. Aku bukan tidak mau bekerja. Aku mempunyai pekerjaan yang bagus di negeriku. Sepuluh tahun aku berkarya, kutinggalkan demi dirinya. Namun, di sana aku tidak qualified. Aku hanya mencoba mengirim resumeku ke setiap advertised. Mereka menganggap aku malas dan hanya mau tidur saja.
 
Aku jalani hidupku seperti air mengalir. Semua itu terhenti. Mereka merenggut dan merampasnya dari hidupku. Mertua dan suamiku merencanakan memulangkan aku ke orang tuaku. Aku menangis. Apa salah dan dosaku? Dia hanya mengatakan lost trust of me. Mengapa dia kehilangan kepercayaan padaku, padahal aku tidak melakukan apa-apa? Hanya karena aku memegang komputer untuk keep in touch dengan kakak dan adikku. Semua yang ku-add murni famili. Ini tak adil bagiku. Aku tak pernah membagi cintaku kepada orang lain, apalagi berpaling. Aku hanya bisa menangis dan menjerit.
 
Dia menelepon kakakku, karena tak mungkin bicara dengan orang tuaku karena keterbatasan bahasa. Akhirnya diputuskan kami hanya meditasi sejenak sekitar satu bulan. Ternyata itu hanya tipu muslihat dia dan orang tuanya. Hatiku hancur. Aku selalu memaafkan dan berdoa untuknya. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan kedua orang tuaku. Aku melihat kesedihan di mata mereka, namun mereka mencoba kuat dan bertahan di depanku. Aku telah menghancurkan martabat mereka. Oh Tuhan maafkan aku. Aku tak ingin semua ini terjadi, apalagi membuat hati orang-orang yang kucintai terluka. Orang tuaku sudah mengetahui apa yang terjadi. Mungkin adikku yang bercerita tentang kekerasan yang kualami. Namun bila menelepon mereka, aku selalu mengatakan suamiku baik dan sayang samaku. Aku tak ingin membuat mereka sedih. Salahkah diriku?
 
Setelah tiba di Medan, aku tinggal di rumah orang tuaku dengan perasaan galau dan hancur. Aku mendapat SMS dari suamiku mengatakan dia sudah men-cancel visaku dan start for divorced. Aku menangis dan menjerit. Ini tak adil bagi diriku. Aku harus mengadu ke mana? Aku mencoba menghubungi Australian Embassy untuk membantu kasusku, tapi dijawab hal itu bukan wewenang mereka. Untuk kembali ke sana aku tidak punya uang dan siapa. Oh, Tuhan, aku hanya menuntut keadilan sebagai istri yang selama ini tidak diberlakukan sebagai layaknya istri dan hak asasiku yang sudah diinjak. Minta bantuan lembaga hukum dan pengacara tanpa uang, tidak mungkin. Mereka tidak akan menghiraukan diriku. Aku depresi berat.
 
Dengan membagi cerita hidupku, mungkin menemukan solusi atau ada yang mau memberi pekerjaan untuk menyambung hidupku yang sudah porak-poranda.
 
Terima kasih.

Kristina Stewart


Anak dan Pengungsian

dikirim oleh Arief Winarko 4 Oktober 2009 - 12:52 WIB

Salam Budaya

Beberapa hari setelah informasi gempa di wilayah Sumatera Barat, terus saja tak terlewatkan dari mata masyarakat yang senantiasa menyaksikan. Sampai detik inipun jumlah korban yang luka dan meninggal masih simpang siur. Apalagi berkaitan tentang persoalan anak dan perempuan, apakah pemerintah sudah mengalkukasikan bantuan khusus buat mereka?

Beberapa informasi yang ditayangkan di media cetak belum memperlihatkan di mana anak-anak sesungguhnya setelah kejadian gempa tersebut. Apakah mereka berada dipengungsian? Tetapi di mana pengungsian tersebut? Belum lagi para perempuan.

Saya berharap persoalan anak dan perempuan jangan sampai terdiskriminasikan. Mereka membutuhkan makanan yang sangat berbeda dari orang dewasa. Apakah jika mereka sudah mengungsi tetap terlindungi dari dingin dan sebagainya? Anak-anak membutuhkan perlindungan dan pendampingan khusus.

Salam
Arief Winarko


Perampasan HAM

dikirim oleh Meliam 12 September 2009 - 7:2 WIB

Saya adalah salah satu guru di sebuah sekolah swasta. Saya sudah mengajar selama 3 tahun. Tahun 2008 saya dan 6 teman ikut tes CPNS. Teman saya 3 orang lulus, tapi saya dan 3 orang yang lain tidak lulus. Ternyata keikutsertaan kami tes dianggap kesalahan besar oleh yayasan, sehingga kami berempat yang tidak lulus di-nol-tahun-kan untuk gaji dan masa kerja. Sedangkan dalam perjanjian kerja yang kami tanda tangani tidak ada peraturan kami dilarang mengikuti tes CPNS. Semua sama walaupun masa kerja kami sudah 3 tahun, 2 tahun, 5 tahun, dan 7 tahun. Kami pun diberikan gaji seperti halnya guru baru. Namun kami tidak dipecat dan diberi pesangon dulu.
 
Kami sudah berusaha memperjuangkan hak kami, tetapi tidak ada perubahan. Bahkan, untuk THR pun yang mestinya kami terima di atas Rp 1,7 juta, ini hanya Rp 370 ribu., arena kami dianggap guru baru. Kami ingin tanyakan apakah hal ini termasuk pelanggaran hak asasi manusia? Karena kami merasa hak kami, dalam hal ini untuk mendapatkan yang lebih baik malah dijadikan suatu pelanggaran dan sanksi yang diberikan pun kami rasakan tidak adil. Apalagi tidak ada dalam peraturan guru di yayasan yang bersangkutan.
 
Terima kasih.
 
Meliam


apakah VHR media bersedia menjadi koresponden bagi Reporters Without Borders?

dikirim oleh fitri bintang timur 11 Agustus 2009 - 21:55 WIB

Halo VRH media,
nama saya Fitri dan baru-baru ini saya dikontak oleh seseorang dari Reporters Without Borders untuk mencari media yang bisa mengisi komentar mengenai press freedom ranking dan human rights, saya pikir VHR sesuai dengan kriteria media yang diminta.

Kalau bersedia, boleh tolong kirimkan saya email VHR/seseorang dari VHR untuk bisa saya kirim attachment quesionernya?

Reporters Without Borders juga mencari volunteer yang bersedia memberikan berita2 tentang HAM dan kebebasan pers di Indonesia. Jika VHR tertarik membuat jejaring dengan mereka saya dapat memberikan juga email mereka.

Salam hangat,
F

Terima kasih atas kepercayaan Anda.

Kami bersedia memberikan komentar untuk Reporters Without Borders seperti yang Anda maksud. Alamat email redaksi VHRmedia.com yang berwenang memberikan komentar tersebut, sudah dikirimkan ke alamat email Anda. 

Redaksi VHRmedia.com


Etalase

Menyulut Luka Kering Perlawanan