teater,bangkit,televisi,telemosi, Telemosi, Contoh Rekaan Buruknya Televisi VHRmedia.com

Telemosi, Contoh Rekaan Buruknya Televisi

22 Mei 2009 - 14:47 WIB
Nina Suartika

”Akan kemanakah kulangkahkan kaki ini? Aku semakin terhimpit oleh kerasnya zaman. Aku terjebak…Tubuhku terasa terkoyak. Begitu sulit aku bergerak. Tanpa asa tanpa jiwa...”

 
Gelisah. Itulah inti cerita yang terlontar dari teater musical yang ditulis dan disutradarai oleh Herry W Nugroho. Pementasan berjudul Telemosi ini melontarkan kegelisahan yang timbul dari dampak buruk televisi bagi remaja. Kegelisahan yang terwakili dari kalimat pembuka tulisan ini, dan merupakan penggalan dari teater yang dipentaskan pada 15 Mei 2009 di Sanggar Akar, Halim, Jakarta Timur.
 
Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Data yang diperoleh mengenai kelakuan buruk para remaja nyatanya sangat mencengangkan.Dan, televisi kerap dituding sebagai pemicu kenakalan remaja, seks bebas, narkoba, pola hidup yang konsumtif, dan sebagainya.
 
Adalah Kinara, seorang remaja yang digambarkan tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Kinara lalu berpaling pada sekolah, tempat yang ia harapkan bisa menjadi rumah keduanya. Alih-alih memberikan apa yang ia harapkan, sekolah hanya memperlakukan Kinara, dan juga murid-murid di sekolah, sebagai robot yang dipersiapkan untuk menjalankan industri yang tersebar di negeri ini. Dalam keputusasaan, Kinara beremu dengan Telemosi, tokoh rekaan yang mewakili dunia konsumtif remaja. Bagi Kinara, Telemosi adalah sosok yang begitu mempesona dan menggoda. Ia dapat memahami apa yang Kinara rasakan. Tanpa sadar, pengaruh Telemosi yang begitu kuat telah membuai Kinara dengan sesuatu yang fana, yang pada akhirnya membawa dampak buruk bagi Kinara.  
 
Seluruh rangkaian dari pementasan ini merupakan hasil keingintahuan murid SMAN 28 Jakarta akan teater, yang tergabung dalam sebuah ruang teater bernama Teater Bangkit. Nama Bangkit diambil dari kegelisahan sang sutradara Herry W Nugroho terhadap dampak buruk media khususnya televisi bagi remaja.
 
Alur yang rapi, setting yang menggambarkan suasana zaman globalisasi, dan perpaduan musik daerah dengan musik khas dari negeri lain yang dikemas secara rapi menunjukan prestasi yang luar biasa untuk ukuran teater remaja. Hanya saja, isu yang dihembuskan dalam pertunjukan ini masih terlalu luas, membuat bingung penonton untuk menilainya. Selain itu, Kinara sebagai tokoh utama cerita ini kurang menyuguhkan kegelisahan yang menjadi tema utama, membuat Telemosi terasa menggantung. Tampilan musik pun dirasa terlalu berlebihan, membuat permainan teater yang menjadi menu utama pertunjukan jadi tenggelam.
 
Eriska Saraswati, pemeran Kinara sempat menceritakan proses latihan untuk pementasan Telemosi. Proses tersebut ternyata dilakukan secara maraton. ”Tidak ada kata lelah di dalam berlatih. Kita berlatih dari pagi sampai sore kemudian diberi waktu istirahat hanya saat makan dan sholat,”katanya.
 
Pernyataan Erika diamini oleh Cicil, pemeran Telemosi. Cicil mengatakan bahwa proses latihan memang dilakukan sangat keras. Setelah pulang sekolah setiap hari Jumat, para pemain berlatih di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. ”Itu kami lakukan sampai malam. Namun ada kalanya kami bangga bisa bergabung dalam teater ini karena kami tidak hanya belajar soal akting tapi juga bisa mempertunjukkannya pada orang banyak,” ujarnya.
 
Herry sang sutradara mengatakan, pada dasarnya dalam proses latihan, setiap pemain melakukan eksplorasi-eksplorasi atas gerak dan tubuh mereka sebagai upaya mentransformasi perilaku adaptif kaum urban. Dibantu oleh penata gerak, pencarian eksplorasi tersebut kemudian menjadi tekstur dari pertunjukan ini. Kemudian dibantu oleh penata gerak. Dan dari hasil pencarian gerak mereka kemudian menjadi tekstur dari pertunjukan ini. ”Memang kadang ada sedikit kendala di dalam proses latihan. Karena sebagian dari para pemain merupakan anak-anak yang benar-benar baru terlibat di dalam seni pertunjukkan teater,” ujarnya.
 
Pementasan teater ini nyata-nyata bertujuan untuk menunjukkan suatu pencapaian yang luar biasa dari proses yang telah mereka lakukan. Namun, apakah pencapaian yang mereka maksud?  Bila rasa keingintahuan akan teater dan dampak dari globalisasi para remaja yang terlibat dalam pementasan ini terpenuhi, apakah tujuan dari pementasan ini telah tercapai? Amat disayangkan, jika para remaja yang terlibat masih belum dapat menyikapi kegelisahan itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Atau, adakah cara lain untuk memahami arti dari pertunjukan ini? Semoga. (E6)
 

Beri Komentar Share on Facebook Print Kirim ke Teman

Berikan Komentar Anda

Nama
E-mail *tidak dipublikasikan
Komentar

Isikan kode disamping, refresh untuk me-reload kode.