Penggusuran Pedagang Kaki Lima (1) Bakso Maut Satpol PP
Yovinus Guntur Wicaksono
Satpol PP Pemerintah Kota Surabaya menggusur pedagang dengan brutal. Anak tukang bakso meninggal tersiram kuah panas.
KOTA Surabaya Senin pagi pertengahan Mei 2009 demikian cerah. Para pedagang yang biasa mangkal di Jalan Boulevard bersemangat memulai hari. Tidak terkecuali Bunali. Pedagang bakso ini berangkat sekitar pukul 10.00 dari rumah kontrakannya, bersama Sumariyah, dan anak balita mereka, Siti Khoiyaroh. Segera suami-istri ini cekatan melayani pembeli, mangkok demi mangkok.
Dua jam kemudian senyum Bunali dan Sumariyah sirna. Juga para pedagang lainnya. Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Surabaya datang “menertibkan” para pedagang kaki lima di Jalan Boulevard.
Bunali dan Sumariyah bergegas mengemasi dagangan. Siti Khoiyaroh pun dinaikkan di atas gerobak bakso. Nahas bagi keluarga Bunali. Belum lagi menyelamatkan diri, mereka diburu sekitar 10 anggota Satpol PP.
Agar buruan tak lepas, dengan segala cara, para petugas Satpol PP mengejar Bunali dan Sumariyah. Bahkan, truk Satpol PP menabrak gerobak bakso Bunali. Gerobak bakso terguling. Kuah bakso panas tumpah, menyiram tubuh Siti Khoiyaroh yang juga terguling. Seketika tubuh bocah empat setengah tahun ini melepuh. Belum sempat menolong Khoiyaroh, rambut Sumariyah dijambak petugas Satpol PP.
Tubuh Khoiyaroh yang mengalami luka bakar serius, hingga 67 persen. Sumariyah luka ringan. Keduanya dilarikan ke Rumah Sakit dr Soetomo. Untuk menetralkan keseimbangan cairan tubuhnya, Siti Khoiyaroh mendapatkan bantuan cairan elektrolit.
Tim dokter terus berjuang memulihkan luka bakar Siti Khoiyaroh. Sayang sekali, setelah menjalani perawatan 10 hari, bocah balita ini meninggal. (bersambung)
Foto: VHRmedia / Hadi Waluyo
3 Komentar
awan @ 17 Juni 2009, pukul 8:48
sungguh keterlaluan untuk sebuah penghargaan penataan kota surabaya harus mengorbankan nyawa orang yang tak bersalah. tidak adakah solusi lain yang lebih bijak untuk memberikan penghargaan kepada manusia. tidakkah ada jalan lain selain menggusur dengan cara arif dan bijaksana.
sukatse @ 17 Juni 2009, pukul 15:42
Sebetulnya kesalahan bukan terletak pada penertib pemerintah,coba bayangkan pada awalnya saja orang tua itu sendiri sudah salah menyertakan anaknya berdagang dipinggir jalan ,apalagi dia tahu cara berdagangnyapun rawan bahaya ,terus waktu ada penertiban dia menaruh anaknya di gerobak yang jelas jelas bukan tempat aman bagi anak kecil.jadi itu musibah karena kecerobohan orang tua.
mimi @ 18 Juni 2009, pukul 19:56
Harusnya negara memebrikan solusi sebelum menggasak warga yang mencari nafkah. Bayangkan hanya berjualan bakso itu saja yang bisa dilakukan suami istri tsb utk melangsungkan kehidupan rumah tangganya, dengan penghasilan yang tidak tentu dia tidak sanggup menitipkan anaknya di tempat penitipan balita seperti banyak dilakukan staff kantor.
Kalo ada kerjaan lain yang bisa dilakukan pasti suami istri itu tidak memilih berjualan bakso di tempat tersebut.
Perbuatan pemerintah seperti ini yang menyebabkan negara kita seperti sering terkena sumpah n kutukan, banyak terkena musibah. Rakyat kecil seperti orang yatim semua (cari seusap nasi kesana sini sendiri) tanpa ada pemerintah yang mengayomi dan menjamin kesejahteraannya. (bandingkan dengan negara2 sebelah yang merdekanya belakangan daripada kita).
Pemerintah harus lebih bijak dan proaktif dalam hal ini. Ini adalah contoh kriminalitas pemerintah terhadap rakyat papa.